Raksasa minuman dunia, The Coca-Cola Company, terpaksa menghentikan sebagian operasional bisnisnya demi mengatasi infeksi ransomware yang tengah berlangsung. Serangan siber ini menyasar Fairlife, anak perusahaan Coca Cola yang bergerak di industri produk susu olahan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan dokumen formulir 8-K yang diajukan baru-baru ini kepada US Securities and Exchange Commission (SEC), Coca Cola mengonfirmasi adanya akses tidak sah ke sistem mereka. "Pada 16 Juli 2026, The Coca-Cola Company mengumumkan bahwa Fairlife diidentifikasi mengalami akses tanpa izin oleh pihak ketiga pada sebagian sistemnya, termasuk sistem yang terkait dengan produksi, sehubungan dengan peristiwa ransomware," tulis dokumen tersebut.
Merespons insiden ini, Coca Cola langsung mengaktifkan protokol respons insiden dan kelangsungan bisnis. Mereka juga menggandeng pakar keamanan siber pihak ketiga untuk membantu menyelidiki serangan serta menilai tingkat kerusakan yang terjadi, di samping melaporkan kejadian ini kepada pihak berwenang.
Meski demikian, proses produksi di Amerika Serikat (AS) sudah terkena dampak langsung karena sebagian operasional terpaksa ditangguhkan. Namun, pihak perusahaan memastikan bahwa kualitas dan keamanan produk tidak terpengaruh oleh insiden ini. Sementara itu, fasilitas produksi Fairlife di Kanada dilaporkan aman dan beroperasi normal.
Saat ini, Coca Cola tengah berupaya keras untuk memulihkan kembali sistem mereka. Perusahaan menyatakan bahwa mereka belum menentukan secara pasti apakah insiden siber ini berpotensi memberikan dampak material yang signifikan terhadap kondisi keuangan korporasi secara keseluruhan.
Di sisi lain, Joseph Perry selaku Cybersecurity Researcher dan Advanced Services Lead di Arcova, menilai dampak material dari serangan ini bisa sangat besar bagi korporasi. Menurutnya, kerugian finansial yang nyata akan sangat bergantung pada seberapa cepat langkah pemulihan yang diambil oleh Coca Cola.
"Fairlife bukanlah bisnis kecil yang tersembunyi di dalam portofolio Coca Cola. Coca Cola menghasilkan pendapatan bersih hampir 48 miliar dolar AS tahun lalu dan melakukan pembayaran kontinjensi sebesar 6,1 miliar dolar AS terkait akuisisi Fairlife. Angka ini memberikan konteks penting mengenai betapa berharganya operasional yang sekarang sedang menganggur tersebut," papar Perry.
Perry menambahkan bahwa dengan dihentikannya produksi di seluruh fasilitas Fairlife di AS, kerugian finansial akan terus menumpuk setiap jamnya. Dampak berantai ini mencakup hilangnya hasil produksi, keterlambatan pengiriman, biaya pemulihan sistem, risiko inventaris, hingga potensi gangguan bagi para peritel yang menjual produk tersebut.