Ketua bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang baru, Kevin Warsh, berjanji kepada para anggota dewan untuk terus berupaya menurunkan harga-harga barang. Dalam penampilan pertamanya di hadapan Kongres AS sejak menjabat, Warsh menegaskan bahwa bank sentral sama sekali tidak memberikan toleransi terhadap inflasi yang membandel.
// RELATED STORIES
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Saat berbicara di depan House Financial Services Committee pada hari Selasa waktu setempat, Warsh menekankan komitmen kuat The Fed untuk fokus mengatasi tekanan harga. Sikap tegas ini umumnya menjadi sinyal bahwa bank sentral lebih condong untuk menaikkan atau mempertahankan suku bunga tinggi daripada menurunkannya.
"Tujuan nomor satu Fed adalah menerapkan kebijakan moneter dengan tepat, atau sedekat mungkin yang kami bisa," ujar Warsh. Ia juga optimistis bahwa jika kebijakan tersebut berjalan dengan tepat, maka lonjakan inflasi yang terjadi selama lima tahun terakhir akan segera menjadi bagian dari masa lalu.
Pernyataan Warsh ini muncul setelah Bureau of Labor Statistics merilis data Consumer Price Index (CPI) bulan Juni yang menunjukkan penurunan inflasi bulanan terbesar sejak tahun 2020. Penurunan ini langsung meningkatkan spekulasi di pasar bahwa The Fed kemungkinan besar akan menahan suku bunga acuan pada pertemuan bulan ini, alih-alih menaikkannya.
Meski demikian, Warsh menilai data inflasi terbaru tersebut belum cukup kuat untuk sepenuhnya meredakan kekhawatiran pasar. "Mungkin ada beberapa pihak yang melihat data pagi ini dan berkata misi telah selesai, semuanya baik-baik saja. Namun, itu bukan pandangan saya," tegasnya, menolak untuk terlalu dini menyimpulkan hasil satu data bulanan saja.
Setelah kesaksian Warsh dan rilis data inflasi tersebut, probabilitas The Fed akan menahan suku bunga pada pertemuan 29 Juli mendatang melonjak hingga lebih dari 83 persen menurut CME FedWatch. Sebaliknya, peluang kenaikan suku bunga anjlok ke angka sekitar 16 persen dari yang sebelumnya mencapai 40 persen.
Di sisi lain, Warsh yang dikenal sering mengkritik kebijakan penyampaian proyeksi suku bunga (forward guidance) menolak memberikan bocoran terkait arah pergerakan suku bunga ke depan. Ia khawatir menyampaikan setiap pemikiran yang melintas justru akan membuat pengambil kebijakan terjebak dalam bias konfirmasi terhadap data ekonomi.
Ketika ditanya mengenai langkah konkret meredam inflasi, ia mengakui beberapa faktor pemicu harga tinggi berada di luar kendali bank sentral, seperti konflik geopolitik di luar negeri. Namun, ia menekankan bahwa inflasi pada dasarnya adalah sebuah pilihan yang sangat dipengaruhi oleh keputusan kebijakan moneter, sehingga The Fed harus memaksimalkan instrumen suku bunga dan neraca keuangan yang mereka miliki.
Warsh juga berkomitmen menjaga independensi The Fed dari intervensi politik, sekalipun mendapat kritik dari Presiden Donald Trump. Sebagaimana diketahui, Warsh dicalonkan oleh Trump pada bulan Januari lalu setelah presiden berulang kali mengecam pendahulu Warsh, Jerome Powell, karena dianggap lambat dalam memangkas suku bunga acuan.
Pada pertemuan pertamanya bulan lalu, Warsh tetap mempertahankan suku bunga acuan AS di kisaran 3,5 persen hingga 3,75 persen. Keputusan tersebut sempat direspons santai oleh Trump yang hanya berkomentar singkat bahwa hal itu bukan masalah besar bagi dirinya.