Kabayan News Kabayan News
/home / berita / Surat Terbuka Pendeta David Tulaar,...
BERITA

Surat Terbuka Pendeta David Tulaar, Soroti Kriminalitas di Sulut

Surat terbuka Pendeta David Tulaar terkait tingginya angka kriminalitas di Sulawesi Utara

Surat terbuka Pendeta David Tulaar terkait tingginya angka kriminalitas di Sulawesi Utara

Manado - Seorang pendeta, David Tulaar, melayangkan surat terbuka kepada seluruh pendeta, gembala, dan pemimpin denominasi Protestan se-Sulawesi Utara. Surat terbuka tersebut menyoroti kesenjangan tajam antara kehidupan rohani yang semarak dengan kenyataan sosial provinsi yang menempati posisi teratas nasional dalam angka kriminalitas.

Dalam surat bertanggal 15 Juli 2026 itu, Tulaar membuka dengan data demografis yang menunjukkan sekitar 62 persen dari 2.740.500 penduduk Sulawesi Utara adalah penganut Kristen Protestan. Wilayah ini juga dikenal memiliki aktivitas keagamaan yang padat, mulai dari ibadah mingguan, ibadah kolom, Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR), hingga berbagai festival gerejawi.

Namun di balik gambaran religius itu, ia mengutip data "Statistik Kriminal 2024/2025" dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang menempatkan Sulawesi Utara di posisi teratas nasional. Tingkat risiko kejahatan di daerah ini mencapai 540 kasus per 100.000 penduduk, yang berarti lebih dari dua kali lipat rata-rata nasional di angka 204 per 100.000 penduduk.

Tulaar juga menyinggung maraknya kasus penikaman yang merenggut nyawa, peredaran senjata rakitan seperti panah wayer, serta meningkatnya angka bunuh diri di kalangan generasi muda. Fenomena ini dinilai sebagai tanda semakin dalamnya jurang antara kehidupan rohani di dalam gedung gereja dan realitas keras di jalanan.

Menurutnya, akar persoalan terletak pada fragmentasi gereja yang terlalu berfokus pada urusan internal denominasi masing-masing demi menjaga stabilitas finansial dan kelembagaan. Akibatnya, ketika generasi muda melangkah keluar dari gereja, mereka memasuki ruang publik yang keras, penuh persaingan, kesenjangan sosial, dan ketidakpedulian, tanpa kehadiran otoritas moral yang kuat dari gereja.

"Bagaimana mungkin khotbah Hari Minggu yang begitu melimpah gagal mencegah sesama kita untuk saling menyakiti?" tulis Tulaar. Ia mempertanyakan mengapa posisi mayoritas demografis Kristen Protestan belum mampu menjadikan iman sebagai kompas moral masyarakat luas. Ia juga mengutip Matius 7:12 sebagai rujukan sederhana yang bisa menjadi fondasi moral bersama.

Sebagai langkah konkret, Tulaar mengusulkan penyelenggaraan Konsultasi Teologis Lintas-denominasi. Forum ini bukan sebagai wadah birokrasi baru, melainkan ruang bagi para pemimpin gereja untuk duduk bersama, menanggalkan sekat organisasi, dan merancang gerakan moral bersama menghadapi kriminalitas, krisis identitas, dan hilangnya otoritas moral gereja.

"Mari kita saling memanusiakan, mari kita ingat bahwa torang samua basudara," tulis Tulaar mengakhiri suratnya, sembari menyatakan kesiapannya membantu mengorganisasi konsultasi tersebut demi masa depan Sulawesi Utara yang lebih aman dan damai.

// TOPICS
#kriminalitas_sulut #pendeta_david_tulaar #gereja_sulawesi_utara #berita_manado #bps_sulawesi_utara #kriminalitas_tertinggi
Tim Jurnalis & Analis Berita

Redaksi Kabayan News adalah tim jurnalis profesional, analis, dan kreator konten yang berdedikasi menyajikan berita nasional dan internasional terlengkap. Dari berita politik breaking news hingga analisis ekonomi mendalam, kami hadir untuk masyarakat Indonesia yang cerdas dan haus akan informasi berkualitas.