Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputri, kembali mengenang peristiwa kelam kerusuhan 27 Juli 1996 atau yang populer disebut Kudatuli. Presiden kelima RI itu mengaku masih heran dan tak habis pikir mengapa peristiwa berdarah tersebut bisa terjadi.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Momen pengenangan itu disampaikan Megawati saat menghadiri pameran foto peringatan 30 tahun peristiwa Kudatuli yang digelar di Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, pada Selasa (21/7/2026). usai berkeliling melihat berbagai foto dokumentasi, Megawati menyampaikan pidatonya dengan penuh emosional.
"Saya sendiri sampai hari ini tidak mengerti? Meskipun dalam batin saya mengerti," ujar Megawati di hadapan para hadirin yang hadir dalam pameran tersebut.
Megawati menegaskan bahwa kantor PDI di Jalan Diponegoro 58, Menteng, Jakarta Pusat saat itu merupakan kantor yang sah dan diberikan langsung oleh negara. Letaknya pun berdampingan dengan kantor Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Hal itu membuatnya heran mengapa markas partainya sampai diserang.
"Tempatnya saja sah. Itu diberikan oleh negara, bersebelahan dengan PPP. Jadi saya tuh suka heran, kenapa kok diserang ya?" kata Megawati.
Rasa heran Megawati kian memuncak karena aksi penyerangan itu justru melibatkan aparat negara. Padahal, PDI kala itu beroperasi secara legal sesuai regulasi yang berlaku.
"Dan serangnya itu juga bukan dari luar, dari aparat kita. Saya suka marah-marah loh," lanjut Megawati menceritakan kekecewaannya.
Bagi putri Proklamator Bung Karno ini, Kudatuli kini membekas sebagai simbol ketidakadilan yang nyata. Ia merasa partainya disasar hanya karena berhasil memenangkan dukungan rakyat dalam pemilu kala itu.
"Lah tempatnya aja sah. Saya didukung juga sah. Tapi kenapa karena saya yang menang lalu kok saya dibeginikan?" ucapnya tegas.
Megawati menegaskan bahwa dirinya bukan seorang provokator dan memegang teguh harga diri. Meskipun sangat menyakitkan, ia memilih untuk tetap tegar dan menolak untuk meratapi nasib.
"Saya sedih loh. Tapi saya enggak menangis. Karena buat saya menangis tuh cengeng. Tapi di dalam hati saya, saya perih sekali," ungkap Megawati.
Peristiwa Kudatuli sendiri mencatatkan sejarah kelam menjelang akhir rezim Soeharto. Kerusuhan berdarah itu bermula dari dualisme kepemimpinan PDI antara Megawati yang didukung rakyat dan Soerjadi yang disokong penuh oleh pemerintah Orde Baru.
Pemerintah yang khawatir akan melonjaknya popularitas Megawati lantas menggelar Kongres tandingan di Medan pada Juni 1996 untuk menetapkan Soerjadi sebagai ketua umum. Namun Megawati menolak tegas hasil kongres tersebut dan memilih bertahan di kantor DPP PDI.
Puncaknya terjadi pada 27 Juli 1996, ketika massa pendukung Soerjadi bersama aparat militer melakukan pengambilalihan kantor PDI secara paksa. Berdasarkan investigasi Komnas HAM, peristiwa tragis ini merenggut 5 nyawa, melukai 149 orang, menyebabkan 23 orang hilang, dan 136 orang ditahan.