Musim kemarau panjang yang melanda wilayah Kabupaten Bandung Barat (KBB) membuat area persawahan di Kecamatan Cipeundeuy dan Cikalongwetan mengering. Kondisi tanah yang retak-retak akibat krisis air memaksa para petani lokal mengambil langkah ekstrem dengan menunda masa tanam padi mereka.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Kondisi memprihatinkan ini salah satunya terlihat di Kampung Babakantapos, Desa Sirnaraja, Kecamatan Cipeundeuy. Pasokan air dari saluran irigasi yang selama ini menjadi penopang utama pertanian warga kini tak lagi mengalir pasca-mengering sejak tiga bulan lalu.
"Harusnya bulan ini sudah masuk masa tanam padi lagi," ujar Iin (65), seorang petani asal Babakantapos. Ia menilai kemarau tahun 2026 terasa jauh lebih menyengat ketimbang tahun sebelumnya yang masih sesekali diguyur hujan.
Kondisi serupa mengintai area persawahan tadah hujan di Kampung Cipeuti, Desa Kanangasari, Kecamatan Cikalongwetan. Petani setempat bahkan tidak dapat memanfaatkannya untuk tanaman palawija karena ketiadaan pasokan air secara menyeluruh.
Menanggapi ancaman kekeringan yang berpotensi meluas hingga 433 hektar, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) KBB, H.M. Lukmanul Hakim, memastikan langkah mitigasi terus berjalan. DKPP KBB menyalurkan bantuan berupa 157 unit pompa air serta memfasilitasi pembangunan infrastruktur irigasi guna membantu para petani menanggulangi krisis air.