Pertemuan hangat antara Jaksa Agung ST Burhanuddin dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo di kantor Kejaksaan Agung, Jakarta Selatan, pada Senin sore menunjukkan sinergi yang kuat di tengah situasi penegakan hukum yang memanas. Berdasarkan pengamatan tim redaksi di lokasi, kedua pimpinan lembaga penegak hukum tersebut tampak akrab dan melakukan salam komando di hadapan para wartawan yang meliput.
// RELATED STORIES
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Menurut Jaksa Agung ST Burhanuddin, hubungan antara institusi Kejaksaan Agung dan Kepolisian Republik Indonesia bukanlah sebuah rivalitas, melainkan kemitraan erat yang telah terjalin lama sejak sebelum keduanya menjabat posisi tertinggi. Burhanuddin menegaskan, "Jangan berpikir kami ini rival," menjelaskan bahwa mereka adalah sahabat lama yang kini bersinergi mengawal keadilan.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, yang hadir bersama jajaran pejabat utama Polri, menyatakan rasa hormatnya atas sambutan hangat Korps Adhyaksa. Ia menegaskan kembali komitmen kedua lembaga untuk solid bergerak bersama sebagai satu kesatuan dalam sistem peradilan pidana nasional demi tegaknya hukum di Indonesia.
Dari pantauan redaksi, momentum persatuan ini mengemuka pasca-langkah tegas kepolisian melakukan penggeledahan di 13 lokasi wilayah Jabodetabek sejak awal Juli. Dalam operasi tersebut, penyidik menyita tujuh koper berisi emas seberat 74 kilogram serta tumpukan valuta asing dengan nilai fantastis mencapai Rp476 miliar dari sebuah brankas di Sentul.
Pengusutan tersebut berbuntut pada pengunduran diri Febrie Adriansyah dari posisinya sebagai Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) sebelum ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi dan pencucian uang. Menurut dokumen penyidikan, kasus ini terkait dengan penanganan perkara Asabri, tata niaga batu bara, hingga Krakatau Steel yang menyeret nama sang mantan pejabat tinggi.
Meskipun demikian, berakhirnya karier Febrie Adriansyah dipandang bukan sebagai keretakan hubungan antarinstitusi melainkan wujud nyata dari penegakan hukum yang objektif. Keberanian kepolisian mengusut oknum kejaksaan serta kebesaran hati Kejaksaan Agung membiarkan proses tersebut berjalan dinilai menjadi bukti bahwa sistem hukum nasional masih memiliki integritas tinggi.