Berdasarkan pengamatan di lapangan, Jude Bellingham sempat mendapat momen emosional saat melakoni wawancara dengan ITV di New Jersey. Gelandang muda itu terpaksa memotong pembicaraannya sejenak karena riuh nyanyian "Hey Jude" dari para suporter menggema di seluruh stadion. Momen ini mempertegas status barunya sebagai pahlawan pujaan publik Three Lions di tengah gelaran Piala Dunia 2026.
// RELATED STORIES
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Sebelum turnamen dimulai, posisi Bellingham di skuad utama sebenarnya sempat menjadi perdebatan sengit. Menurut analisis tim redaksi, Thomas Tuchel sempat bimbang memilih antara dirinya dengan Morgan Rogers dari Aston Villa untuk mengisi peran nomor 10 dalam pakem 4-2-3-1. Tuchel bahkan sempat melontarkan kritik tajam terhadap performa Bellingham bersama Real Madrid musim lalu sebelum akhirnya meralat ucapannya tersebut.
Keraguan itu langsung dibayar tuntas oleh Bellingham lewat aksi magisnya di atas lapangan. Meski Inggris sempat tampil gugup pada 30 menit awal laga pembuka kontra Croatia di Dallas, Bellingham menjadi sosok yang membangkitkan asa tim. Asisten manajer Anthony Barry sempat mengkritik performa babak pertama tim yang dinilai "penuh ketakutan" walau skor imbang 2-2, namun Bellingham meresponsnya dengan gol ketiga yang krusial lewat determinasi tinggi.
Dari pantauan redaksi, setelah performa kolektif yang kurang maksimal saat ditahan imbang oleh taktik defensif Ghana, Bellingham kembali menggila dalam laga penentu juara Grup L melawan Panama. Pemain berusia 23 tahun tersebut membidani dua gol kemenangan Inggris, termasuk satu penyelesaian voli ciamik dan satu assist matang yang disundul oleh Harry Kane untuk mengunci posisi puncak grup.
Kemampuan Bellingham memimpin rekan-rekannya langsung memicu komparasi dengan legenda Liverpool, Steven Gerrard. Kendati demikian, Gerrard sendiri mengakui bahwa Bellingham saat ini "berada jauh di depan" dirinya sewaktu muda. Tidak seperti para pendahulunya yang kerap meredup di turnamen besar, Bellingham memperlihatkan mentalitas pemenang yang jarang dimiliki pemain Inggris sejak era keemasan Wayne Rooney pada Euro 2004 silam.
Sementara Harry Kane mungkin menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Inggris dan berpeluang meraih Ballon d'Or, Bellingham adalah sosok yang mengendalikan permainan. Menurut pandangan para pengamat, ketergantungan Inggris pada Kane kerap menjadi bumerang, tetapi kehadiran Bellingham yang berani menjemput bola dan memecah kebuntuan memberikan dimensi baru yang sangat dibutuhkan oleh Thomas Tuchel.
Melalui performa heroisme yang konsisten, Bellingham kini disebut-sebut sebagai jawaban Inggris untuk sosok Lionel Messi di Timnas Argentina. Meskipun secara gaya main keduanya berbeda, pengaruh magis Bellingham di lapangan memiliki dampak serupa. Di usianya yang masih sangat muda, ia memiliki potensi besar untuk mengakhiri puasa gelar juara dunia yang gagal dipersembahkan oleh generasi Steven Gerrard maupun David Beckham.