Pemerintah Amerika Serikat resmi melonggarkan pembatasan ekspor chip kecerdasan buatan (AI) canggih ke Uni Emirat Arab (UEA). Kebijakan ini diambil setelah negara Teluk tersebut menjadi mitra militer kunci AS dalam konflik melawan Iran, menjadikannya bukti terbaru bagaimana chip AI kini menjadi alat tawar-menawar penting dalam diplomasi internasional.
// RELATED STORIES
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Di bawah aturan baru pemerintahan Presiden Donald Trump, UEA kini ditempatkan dalam kategori lisensi ekspor yang sama dengan negara-negara Eropa, Korea Selatan, dan India. Sebelumnya, akses teknologi dan peralatan militer UEA dibatasi selevel dengan negara-negara seperti China dan Yemen.
Perubahan status ini memungkinkan perusahaan AI terkemuka UEA, G42, untuk membeli chip Nvidia tanpa batasan selama setidaknya sembilan bulan ke depan. Selain itu, kebijakan ini juga mempermudah langkah raksasa teknologi AS seperti Microsoft dan OpenAI yang berencana membangun pusat data bernilai miliaran dolar di UEA.
Peran UEA dalam konflik tersebut mencakup puluhan serangan udara, pengadangan ratusan rudal, serta menjaga kelancaran jalur pasokan minyak di Selat Hormuz. Keterlibatan aktif ini meyakinkan pejabat tinggi Gedung Putih bahwa UEA merupakan sekutu yang dapat diandalkan.
Kendati demikian, langkah ini memicu kritik politik di dalam negeri AS. Sejumlah anggota Kongres menyoroti potensi konflik kepentingan mengingat penasihat keamanan nasional UEA, Sheikh Tahnoon bin Zayed Al Nahyan, sempat melakukan investasi bisnis besar dengan keluarga Trump sebelum kebijakan ini diumumkan, meski tuduhan tersebut dibantah tegas oleh pihak Gedung Putih.