Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) RI Donny Ermawan memberikan penjelasan resmi terkait alasan para peserta program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang dipersiapkan menjadi calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dibekali dengan latihan ala militer. Berdasarkan keterangan resminya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Donny mengakui bahwa pola pendidikan yang mengadopsi lingkungan militer ini kerap memicu pertanyaan di masyarakat.
// RELATED STORIES
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Menurut penjelasan Donny Ermawan, aspek yang diadopsi dari pola tersebut bukanlah kemampuan tempur fisik, melainkan nilai-nilai positif yang terkandung dalam pendidikan bela negara. "Jadi sebetulnya itu banyak yang ditanyakan lah ya kenapa kok dilatih kemiliteran ya. Tapi tidak bisa kita pungkiri bahwa di dalam kemiliteran itu ada nilai-nilai yang sangat baik sekali untuk bisa membentuk karakter," ujar Donny saat memberikan keterangan kepada awak media.
Lebih lanjut, Wamenhan memaparkan bahwa para peserta SPPI ini dipersiapkan untuk mengemban posisi manajerial yang menuntut ketangkasan dalam menjalankan tugas serta memimpin tim langsung di lapangan. Melalui pembinaan karakter ini, diharapkan terbentuk figur pemimpin yang kompeten. "Karena manajer ini nanti di lapangan juga dibutuhkan manajer-manajer yang bagus juga. Jangan sampai nanti manajernya nggak bisa melaksanakan tugasnya, nggak bisa memimpin anak buahnya," ucapnya menambahkan.
Berdasarkan pemantauan redaksi, pendidikan bela negara dinilai memberikan pembiasaan terhadap fondasi utama dalam dunia kerja profesional, seperti kedisiplinan yang ketat, ketepatan waktu, kerja sama tim, hingga koordinasi yang solid. Donny Ermawan menegaskan bahwa nilai-nilai tersebut sangat krusial diajarkan agar para calon manajer memiliki etos kerja yang tinggi saat terjun ke masyarakat.
Dari hasil observasi tim redaksi, metode pembentukan karakter melalui pusat pendidikan Tentara Nasional Indonesia maupun Pusat Bela Negara Kementerian Pertahanan Republik Indonesia sebenarnya bukan hal baru. Metode ini telah banyak dimanfaatkan oleh berbagai kementerian serta perusahaan swasta untuk mendongkrak kualitas sumber daya manusia mereka agar memiliki integritas serta kedisiplinan yang tinggi.
Namun, program Latihan Dasar Militer (Latsarmil) bagi calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih ini belakangan menjadi sorotan tajam publik. Berdasarkan informasi yang dihimpun, pelaksanaan latihan tersebut dilaporkan telah menelan korban jiwa, di mana terdapat lima orang peserta yang dinyatakan meninggal dunia saat mengikuti proses pembinaan tersebut.