Jelang penganugerahan Ballon d'Or pada 26 Oktober mendatang di London, muncul keraguan besar mengenai sosok yang pantas merengkuh trofi individual paling bergengsi tersebut. Siapa pun pemenangnya nanti, publik diprediksi tetap akan merasa ada yang kurang. Hal ini terjadi bukan karena para kandidat tampil buruk, melainkan karena tidak ada satu pun pemain yang memenuhi seluruh kriteria secara sempurna, mulai dari performa individu, prestasi kolektif, konsistensi sepanjang musim, hingga dampak nyata di laga-laga besar.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Kondisi ini terbilang janggal, terlebih di tahun penyelenggaraan Piala Dunia yang biasanya menjadi tolok ukur utama. Rodri, misalnya, memang memiliki narasi yang luar biasa setelah bangkit dari cedera ligamen lutut parah untuk kemudian membawa Spanyol menjuarai Piala Dunia sekaligus menyabet gelar pemain terbaik turnamen. Namun, Ballon d'Or ditujukan untuk mengapresiasi kinerja sepanjang musim 2025-2026, bukan hanya performa apik selama satu bulan turnamen berlangsung.
Di sisi lain, rekan setimnya di Timnas Spanyol, Fabián Ruiz, mengoleksi trofi paling mentereng setelah memenangkan Liga Champions bersama PSG dan Piala Dunia. Namun, munculnya nama Fabián Ruiz sebagai kandidat terkuat justru mengindikasikan krisis figur dominan. "Gelandang Spanyol tersebut melewatkan sebagian besar musim akibat cedera dan tidak pernah menjadi pemain terbaik di dua kompetisi utama yang dimenangkannya," tulis analisis sofoot.com.
Bila Piala Dunia gagal melahirkan kandidat mutlak, opsi lain jatuh kepada bintang yang bersinar di level klub seperti Khvicha Kvaratskhelia. Winger asal Georgia itu sukses membawa PSG menjuarai Liga Champions dengan torehan 10 gol dan 6 assist serta disematkan sebagai pemain terbaik turnamen. Namun, absennya Kvaratskhelia di ajang Piala Dunia serta performanya yang terbilang biasa saja di liga domestik menjadi celah besar dalam pencalonannya.
Melihat tidak adanya sosok "patron" yang benar-benar mendominasi, Ballon d'Or 2026 diprediksi hanya akan jatuh kepada kandidat yang kelemahannya paling dimaklumi oleh para pemilih. Situasi tanpa pemenang ideal ini bahkan memicu wacana radikal untuk membatalkan penganugerahan edisi tahun ini, layaknya keputusan ekstrem yang pernah diambil France Football pada edisi 2020 lalu.