Raksasa layanan streaming asal Amerika Serikat, Netflix, baru saja merilis proyeksi pendapatan dan laba untuk kuartal ketiga yang ternyata berada di bawah target Wall Street. Pengumuman ini langsung memicu kekhawatiran para investor terkait melambatnya pertumbuhan bisnis perusahaan, hingga membuat saham mereka jeblok.
// RELATED STORIES
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Dalam perdagangan pasca-penutupan bursa, saham Netflix tercatat anjlok hampir 8,6 persen ke angka 67,99 dolar AS. Langkah ini menjadi pukulan tersendiri bagi perusahaan yang saat ini dipimpin oleh duet Co-CEO Ted Sarandos dan Greg Peters tersebut.
Manajemen Netflix menyatakan bahwa mereka memperkirakan pendapatan sebesar 12,86 miliar dolar AS untuk periode Juli hingga September, dengan laba per saham (EPS) yang terdilusi sebesar 82 sen. Angka ini lebih rendah dari proyeksi para analis finansial di LSEG yang mematok pendapatan sebesar 13 miliar dolar AS dan EPS sebesar 84 sen.
Setelah menikmati lonjakan pertumbuhan pelanggan yang masif selama bertahun-tahun, Netflix kini mulai memutar otak demi mencari ladang pertumbuhan baru. Perusahaan mulai merambah sektor periklanan, siaran langsung (live events), hingga industri video game demi mendongkrak pendapatan mereka.
Analis dari PP Foresight, Paolo Pescatore, menilai bahwa proyeksi kuartal ketiga ini mencerminkan kombinasi dari sikap kehati-hatian manajemen dan fase pertumbuhan yang mulai matang secara alami. Menurutnya, kondisi ini bukan menunjukkan adanya pembusukan bisnis yang terjadi secara tiba-tiba.
"Proyeksi ini akan memperkuat pandangan bahwa Netflix tetap kuat, namun mereka sedang memasuki fase pertumbuhan yang lebih stabil. Hal ini menyisakan ruang kesalahan yang jauh lebih kecil mengingat ekspektasi pasar yang selalu tinggi," ujar Paolo Pescatore memberi analisis.
Menyikapi situasi ini, Netflix juga mengumumkan kebijakan baru untuk memangkas frekuensi perilisan laporan data jam menonton (viewing-hours) dari dua kali setahun menjadi hanya sekali setahun mulai Januari 2027. Langkah ini diambil agar fokus pasar tetap tertuju pada metrik keuangan utama mereka, yaitu pendapatan dan laba operasional. Sebelumnya, Netflix juga sudah berhenti merilis jumlah pelanggan kuartalan sejak tahun 2025.
Untuk kuartal yang baru saja berakhir, kinerja keuangan Netflix sebenarnya masih sejalan dengan estimasi analis. Laba per saham tercatat sebesar 80 sen dengan total pendapatan mencapai 12,56 miliar dolar AS, didorong oleh kesuksesan beberapa konten hit seperti drama kriminal "I Will Find You" dan film animasi "Swapped".
"Kinerja keuangan kami tetap solid dan kami berada di jalur yang tepat untuk memenuhi target-target kami tahun ini," tulis manajemen Netflix dalam surat kuartalan resmi yang ditujukan kepada para pemegang saham.
Di sisi lain, persaingan ketat terus mengintai Netflix dari segala penjuru industri hiburan. Mereka tidak hanya bertarung dengan media tradisional seperti Walt Disney, melainkan juga harus menghadapi dominasi YouTube di ruang keluarga serta tren video pendek melalui aplikasi mobile seperti TikTok.
Hingga April lalu, Netflix melaporkan telah mengantongi lebih dari 325 juta pelanggan berbayar dan meyakini angka tersebut masih bisa bertambah. Perusahaan juga mengulang prediksi sebelumnya bahwa pendapatan dari sektor iklan akan menyentuh angka 3 miliar dolar AS pada akhir tahun ini, ditopang oleh kemitraan hak siar pertandingan langsung NFL.
Dalam sebuah sesi video pasca-laporan keuangan, Greg Peters sempat mengungkapkan bahwa Netflix tengah mempertimbangkan opsi untuk meluncurkan layanan gratis dengan sisipan iklan di beberapa pasar tertentu. Kendati demikian, rencana tersebut dipastikan belum akan terealisasi dalam waktu dekat.
Dari segi interaksi pengguna, Netflix mengeklaim bahwa jumlah waktu yang dihabiskan penonton di platform mereka masih berada dalam kategori sehat. Jumlah jam menonton tumbuh sebesar 2 persen pada paruh pertama tahun ini, sedikit meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan 1,5 persen pada periode yang sama tahun lalu.
Demi tetap unggul dari para kompetitor, Netflix berkomitmen untuk memanfaatkan integrasi teknologi terbaru di segala lini bisnis mereka. Salah satunya adalah pemanfaatan kecerdasan buatan generatif (generative AI) oleh para produser yang kini skalanya berkembang pesat dan telah diterapkan pada sekitar 300 judul tayangan, mayoritas pada tahap pascaproduksi.