Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, melayangkan tudingan keras kepada Amerika Serikat yang dinilai telah berulang kali melanggar Nota Kesepahaman (MoU) antara kedua negara. Khamenei memperingatkan bahwa Amerika Serikat akan menerima pelajaran yang tak terlupakan dari Teheran beserta sekutu regionalnya akibat pelanggaran sepihak tersebut.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan laporan Al Jazeera, pernyataan tertulis Mojtaba Khamenei dibacakan langsung di televisi pemerintah. Khamenei menegaskan bahwa pelanggaran terhadap MoU ini menunjukkan bahwa komitmen tertulis dari pihak Washington sudah tidak memiliki kekuatan hukum maupun moral.
"Pelanggaran berulang terhadap kesepakatan oleh Setan Besar terkait dengan perjanjian tersebut sekali lagi membuktikan kepada semua orang bahwa tanda tangan Presiden Amerika sekarang sama sekali tidak berharga dan tidak sah, dan bahwa intimidasi, hegemoni, dan kebiadaban adalah komponen yang tak terpisahkan dari keyakinan dan doktrin Amerika," bunyi pernyataan resmi tersebut.
Khamenei menambahkan bahwa musuh Amerika saat ini sedang berusaha memicu perang yang lebih besar dan bersiap menanggung biaya serta penghinaan yang lebih mendalam. Menurut dia, bangsa Iran dan Front Perlawanan telah menyiapkan balasan yang setimpal bagi pihak agresor. Dari pantauan redaksi, situasi di Timur Tengah kian memanas setelah dua tentara AS dilaporkan tewas di Yordania akibat eskalasi konflik ini.
Menurut pengamatan tim redaksi, Amerika Serikat secara dramatis justru meningkatkan serangannya terhadap Iran selama delapan hari berturut-turut di tengah momentum gencatan senjata. Serangan tersebut secara spesifik menargetkan infrastruktur sipil vital di Iran, termasuk jembatan, jalur kereta api, hingga pabrik desalinasi air.
Sebagai respons, Iran membalas dengan menyerang infrastruktur sipil di Kuwait yang merupakan sekutu AS, sehingga memaksa otoritas setempat mengimbau warga untuk melakukan penghematan konsumsi listrik. Konflik terbuka antara AS-Israel melawan Iran ini diketahui telah pecah sejak 28 Februari 2026 dan belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Hingga saat ini, pihak Iran belum memberikan sinyal akan tunduk pada tuntutan pemerintahan Donald Trump yang terus meningkat. Di sisi lain, dari pantauan redaksi, muncul laporan bahwa kelompok Houthi di Yaman bersiap menutup jalur maritim Bab al-Mandeb menuju Laut Merah sebagai bentuk dukungan kepada Iran, sebuah langkah yang diprediksi dapat mengguncang pasar energi global secara signifikan.