Satpol PP Kecamatan Tanjung Priok memastikan video viral yang menarasikan adanya praktik "pijat ala India" disertai penyajian minuman keras di kawasan Danau Sunter, Jakarta Utara, tidak sesuai dengan kondisi di lapangan. Petugas menegaskan bahwa informasi yang beredar luas di media sosial tersebut hanyalah sebuah konten belaka.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Kepastian ini diperoleh setelah Satpol PP Kecamatan Tanjung Priok bersama Satpol PP Kota Administrasi Jakarta Utara turun langsung melakukan pengecekan ke lokasi pada Jumat (18/7/2026). Petugas langsung menyisir area yang diduga menjadi tempat praktik tersebut untuk mendapatkan fakta yang akurat.
Through akun Instagram resminya, Satpol PP Kecamatan Tanjung Priok menjelaskan bahwa petugas telah melakukan klarifikasi kepada para pedagang, warga, serta tokoh masyarakat di sekitar lokasi. Berdasarkan pemeriksaan lapangan, petugas sama sekali tidak menemukan adanya aktivitas jasa pijat maupun penyajian minuman keras seperti yang dinarasikan dalam video.
Pihak Satpol PP pun menyayangkan tindakan tersebut dan mengimbau masyarakat serta para kreator konten agar lebih bijaksana dalam membuat maupun menyebarluaskan informasi di media sosial. Mereka berharap media sosial dapat dimanfaatkan sebagai sarana edukasi, informasi, dan hiburan yang positif serta bertanggung jawab.
Sebelumnya, video tersebut sempat memicu kegaduhan dan berbagai respons negatif dari warganet. Tidak hanya pengguna internet, warga dan para pedagang di kawasan Danau Sunter juga merasa sangat terusik oleh aktivitas pembuatan konten yang membawa-bawa minuman beralkohol itu.
Seorang pedagang di Danau Sunter mengungkapkan bahwa kehadiran pembuat konten tersebut sangat mengganggu kenyamanan. Terlebih lagi, mereka membawa minuman keras, padahal seluruh pedagang di kawasan tersebut berkomitmen penuh untuk tidak menjual minuman beralkohol sama sekali.
Warga setempat membeberkan bahwa kelompok pembuat konten tersebut bukan merupakan warga sekitar dan berjumlah sekitar 15 hingga 20 orang saat beraksi. Pedagang mengaku khawatir video tersebut memicu salah paham dari masyarakat luas yang mengira warga lokal yang menginisiasi kegiatan negatif tersebut.