Negara-negara di kawasan Teluk diperkirakan tidak akan terlibat langsung dalam konfrontasi militer meski Iran melancarkan serangan ke sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di wilayah kawasan, termasuk di Kuwait dan Bahrain.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan analisis Peneliti Asia Middle East Center, Pizaro Gozali, negara-negara Teluk cenderung mendorong penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi ketimbang membuka front pertempuran baru yang berisiko tinggi.
Dari pantauan redaksi, eskalasi ketegangan memang terus dipantau secara ketat oleh para pengamat internasional menyusul meningkatnya kekhawatiran meluasnya bentrokan militer di wilayah strategis tersebut.
Menurut Pizaro, negara-negara Teluk tidak akan pernah membalas serangan kepada Iran. "Seperti Yordania ya. Yordania itu juga tidak punya kemampuan untuk perang melawan jarak jauh kepada Iran dan dia khawatir serangan dari Iran itu akan membakar kota-kotanya," ujarnya.
Berdasarkan keterangan Pizaro, Kuwait secara resmi telah menyatakan tidak mengizinkan wilayahnya digunakan untuk basis serangan terhadap Iran, meskipun secara politik dan keamanan Kuwait masih memiliki ketergantungan erat pada Amerika Serikat. "Kuwait akan sangat sulit lepas dari kekuasaan politik dan keamanan Amerika Serikat," tambahnya.
Dari pengamatan tim redaksi, upaya pencegahan meluasnya perang kini menjadi fokus utama bagi diplomat di kawasan. Pizaro menegaskan bahwa tindakan yang paling mungkin dilakukan negara Teluk adalah mendorong pihak-pihak bertikai agar Amerika Serikat dan Iran bersedia kembali ke meja perundingan.
Di sisi lain, Teheran dinilai masih memiliki daya tahan militer dan politik yang memadai untuk menghadapi gempuran serta tekanan dari Amerika Serikat. "Iran punya pengalaman perang delapan tahun dengan Irak. Mereka juga punya pengalaman menghadapi konflik berkepanjangan melalui proksi seperti Hizbullah," jelas Pizaro mengenai ketahanan negara tersebut.